Bendungan Logung jawaban terhadap harapan masyarakat
20 Dec 2018
Jakarta (ANTARA News) - Bendungan Logung yang hadir di tengah masyarakat Kudus, Jawa Tengah, merupakan jawaban dari harapan daerah yang dikenal dengan sebutan "Kota Kretek" itu selama 47 tahun lamanya.

Hal ini dikemukakan oleh Bupati Kudus, Muhammad Tamzil saat memberikan kata sambutan dalam acara pengisian awal bendungan yang dibangun berkat sokongan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Perumahan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Kudus.

Seraya bernostalgia, Tamzil dengan "medok"-nya bercerita kepada para hadirin di tengah cuaca terik Kudus siang itu.

"Bendungan ini sudah lama menjadi cita-cita Kudus, Pak Dirjen. Jadi kalau tidak salah sudah digagas tahun 1971, baru diomong-omong sama warga, belum ada tindak lanjut," ungkapnya.

Tamzil mengatakan sekitar tahun 2002 rencana pembuatan bendungan dibicarakan secara serius sebagai langkah baru untuk membuat perubahan di daerah yang sering kekeringan karena ketiadaan penampungan air itu.

Amin Munajat selaku Bupati Kudus kala itu bersemangat untuk merealisasikan ide bendungan pada tahun 2002. Selanjutnya, pada 2003 Tamzil melanjutkan amanah dengan menjadi Bupati dan memulainya dengan membuat amdal bersama-sama Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana.

"Waktu itu Dirjen SDA, Pak Basuki Hadimuljono sering ke Kudus. Saya sampaikan kepada beliau bahwa kami butuh ini (bendungan) dan sempat jalan-jalan ke beberapa wilayah, termasuk ke sini. Alhamdulillah sejak itu beliau juga bertekad," kenang Tamzil.

Basuki lalu mengindahkan permintaan Tamzil sebagai wakil dari suara rakyat Kudus yang telah lama mendambakan bendungan, namun ada satu syarat, "Asalkan Pemda membebaskan tanah, kuncinya hanya itu," lanjut Tamzil menirukan Basuki.

Tak berapa lama setelahnya, Pemkab Kudus beserta jajaran bersama-sama membuat jalan masuk dari jalan kapubaten ke arah bendungan yang merupakan awal mulanya dibangunnya Bendungan Logung sejauh dua kilometer.

Jalanan yang diaspal itu kemudian dilanjutkan oleh bupati berikutnya, yakni H. Musthofa pada tahun 2008 untuk melanjutkan pengembangan proyek bendungan dengan membebaskan lahan selama 10 tahun.

"Saya waktu selesai bupati kembali ke provinsi, sering dimarahi Pak Bibit Waluyo (mantan Gubernur Jateng periode 2008-2013) karena katanya gara-gara waduk ini saya waktu itu tidak bebaskan tanah. Baru saatnya ketika Pak Musthofa menjabat membebaskan tanah, dananya bersama dari provinsi, sampai tahun 2015 mulai (pembangunan) fisik Alhamdulillah," tambah Tamzil sambil memamerkan senyumannya.

Menurut Tamzil, bendungan yang sudah ditutup saluran pengelaknya dengan ditandai pemencetan tombol dan sirine pada Selasa (18/12) itu meninggalkan jejak bersejarah bagi masyarakat Kudus karena ada tiga Bupati Kudus dan dua Gubernur Jawa Tengah yang mengupayakannya menjadi nyata.

Tamzil berterima kasih kepada para pemangku kepentingan yang telah berusaha membangun Bendungan Logung karena telah mengurangi banjir di Kudus, terlebih bagi para petani yang butuh pengairan dan melindungi tanamannya dari genangan yang kerap terjadi.



Siap Beroperasi

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) siap melakukan pengisian awal bendungan atau impounding pada Bendungan Logung yang terletak di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah pada Selasa (18/12).

"Bendungan Logung merupakan salah satu dari 65 bendungan yang dibangun oleh Kementerian PUPR untuk mendukung program NawaCita Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan ketahanan pangan dan air nasional," ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi.

Pembangunan Bendungan Logung membutuhkan waktu sekitar lima tahun, yang dimulai sejak tahun 2014 hingga 2018 dengan nilai kontrak Rp620 miliar.

Bendungan itu dibangun atas Kerjasama Operasional (KSO) antara PT Wijaya Karya & PT Nindya Karya. Bendungan ini memiliki tinggi 55 meter dan panjang 350 m, serta mampu menampung air sekitar 20,15 juta m3, dengan volume efektif sebesar 13,72 juta m3.

Bendungan Logung direncanakan dapat memenuhi kebutuhan air irigasi untuk lahan potensial maksimal 5.296 hektare yang terdiri dari luas irigasi eksisting 2.805 hektare dan irigasi pengembangan 2.491 hektare di wilayah Kabupaten Kudus, serta peningkatan produktivitas tanaman padi.

Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan air baku sebesar 200 liter per detik di perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Kudus, pengendalian banjir dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro sebesar 0,50 MW.

Masyarakat Kabupaten Kudus hidup dari pertanian dan industri, sehingga sangat membutuhkan air untuk keperluan pertanian maupun air baku untuk air minum. Sementara di saat musim kering kabupaten tersebut sering mengalami kekeringan dan saat musim hujan mengalami kebanjiran akibat meluapnya sungai di pegunungan Muria. Dengan adanya bendungan yang terletak di lokasi lereng Gunung Muria itu diharapkan dapat mengurangi bencana banjir wilayah Kabupaten Kudus dan sekitarnya.

Selain itu, Bendungan Logung juga memiliki manfaat sebagai sarana wisata sebagai bentuk ekonomi kerakyatan tersendiri.

Pariwisata di Bendungan Logung yang akan menghabiskan dana Rp 21 miliar itu nantinya harus tetap memperhatikan prinsip hidrologi dan konservasi dari hulu ke hilir dengan adanya pepohonan dan membatasi area bagi wisatawan untuk alasan keamanan.

Perlu diketahui, masyarakat diimbau agar tidak menggunakan keramba untuk budidaya ikan di Bendungan Logung, guna menjaga kualitas air, namun perikanan tangkap diperbolehkan.

Pihaknya bersama Pemkab Kudus telah menyelesaikan pembangunan Bendungan Logung yang dapat mengairi irigasi seluas 5.296 hektar terdiri irigasi eksisting 2.805 hektar dan irigasi yang akan dikembangkan 2.491 hektare.

"Selain ektensifikasi lahan pertanian, terjaminnya suplai irigasi akan meningkatkan indeks pertanaman (IP) petani minimal 200 persen. Sehingga petani bisa dua musim tanam padi dan satu kali musim tanam palawija," ungkap Hari.

Acara pengisian awal bendungan yang dilakukan Selasa (18/12) dihadiri oleh Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Ditjen SDA Kementerian PUPR Agung Djuhartono, Kepala Pusat Bendungan Ni Made Sumiarsih, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Charisal A. Manu.*


Baca juga: PUPR imbau warga tak gunakan keramba di Logung

Baca juga: Wisata Bendungan Logung telan Rp 21 miliar

 

Pewarta: Tessa Qurrata Aini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018